Belajar Menghargai Waktu

Kamu tahu bahwa Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia? Terbesar disini maksudnya adalah PALING BESAR. Dengan wilayah yang luas dan pulau yang banyak, Indonesia ada di urutan ke-empat untuk padatnya populasi penduduk di dunia.

Beberapa bulan belakangan ini, saya mencoba membuka pergaulan lebih luas lagi. Saya semakin sering bertemu orang baru, tentu dengan pribadi yang beragam pula. Kamu tahu bahwa kamu sekarang adalah hasil pembentukan pergaulan mu selama ini. Jadi, jangan jadikan hidup kita hanya monoton pada komunitas itu-itu saja.

Ada satu permasalahan yang saya lihat dari kebanyakan orang di Indonesia, termasuk saya. Kenapa saya bilang orang di Indonesia? Karena pergaulan internasional saya masih terbilang minim. Maka, saya jadikan kotak permasalahan ini terbatas di Indonesia. Satu permasalahan tersebut yaitu : “menghargai”.

Banyak masalah timbul dari kata sederhana tersebut. Persahabatan bisa rusak hanya karena tidak ada rasa menghargai waktu sendiri dari seorang teman. Pekerjaan bisa hilang hanya karena tidak bisa menghargai kritik yang diberikan oleh atasan. Hubungan cinta bisa putus bila tidak ada rasa menghargai waktu privasi dari sepasang kekasih. Banyak lainnya.

Persoalan menghargai seharusnya menjadi kesadaran. Saya sering tidak menghargai orang hanya karena ucapan. Orang sering tidak menghargai orang lain lewat berbagai cara, tindakan misalnya. Penghargaan yang seharusnya kita berikan disini bukan berarti dalam bentuk fisik saja. Tindakan, ucapan, cara pandang, atau tingkah laku. Penghargaan lain yang bersifat privasi seperti bagaimana menghargai masa lalu orang, menghargai pilihan orang yang tidak kita suka, menghargai keputusan yang membuat sisi kita menjadi berat, atau bahkan menghargai orang yang tidak menghargai kita.

Terkadang tanpa disadari, kita bahkan tidak menghargai diri sendiri. Kita rela membuat diri kita sendiri minder di hadapan orang lain yang kita rasa lebih baik dari kita. Kita sering memandang diri kita lebih lemah, lebih banyak kekurangan bila dibandingkan orang lain. Terlalu banyak membandingkan, terlalu banyak kita tidak menghargai diri sendiri.

Sadar atau tidak, saya sering seperti itu, dan saya rasa ketika sedang membandingkan seperti itu, beberapa waktu terbuang percuma hanya untuk menginginkan sesuatu yang bukan kepunyaan saya. “Saya mau ganteng, saya mau cantik, saya mau hidung mancung, bla bla bla…”. Percuma merasa seperti itu, umur tetap berjalan. Waktu tetap berjalan.

Saya beberapa waktu pernah men-stalking timeline twitter orang yang sudah meninggal dunia. Ketika saya lihat tweet dia, saya merasa dan berpikir ketika dia menulis tweet seperti ini, entah sedih, senang, kesal, atau bahkan tidak menghargai orang, sesaat setelahnya dia dipanggil oleh Tuhan. Maksud saya adalah kita tidak pernah tahu kapan kita meninggal.

Mungkin sekarang kita berpikir soal menghargai dan tidak dihargai, setelah itu kita meninggal. satu hal yang bisa kita lakukan adalah menghargai waktu sebisa mungkin memanfaatkannya untuk kebaikan diri sendiri dan orang lain.

Seorang travel and social entusiast yang lebih sering disibukkan oleh aktivitas pengembangan masyarakat daripada pekerjaannya di perusahaan media nasional. Menulis, berbicara di depan publik, dan proyek sosial adalah makanan sehari-hari yang membuat hidupnya lebih hidup.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *