Gus Dur dan Nasionalisme yang Romantis

Aku ingat, matanya memang terpejam,
Tapi nyata: ia melihat lebih banyak dari kami semua,
Memandang lebih dalam dari kami yang matanya membelakak,
Dan menyaksikan lebih jauh dari mata kami yang terbuka lebar.
Lelaki itu…adalah samudera kehangatan,
Dimana setiap orang bebas berenang, berselancar ataupun menyelam,
Tanpa takut ditanya : “agamamu apa?”.

Untaian kata di atas adalah kutipan sajak dari putri Gus Dur, Inayah Wahid. Sebuah sajak yang mengingatkan kembali kepada kita bagaimana seorang Gus Dur hidup dan “membuka mata” kita dalam berbangsa dan bernegara dengan cara lain nan sederhana, meski di lain sisi Gus Dur juga acapkali “diremehkan” oleh sebagian pihak karena keterbatasannya.

Lewat kepiawaiannya, Gus Dur membuat kita tertawa, meniada atas beban dan bertoleran atas perbedaan, serta membuat kita “bertawaf” ke dalam diri untuk melihat hal-hal yang subtantif dibanding sibuk meng-intrik dan mati-matian memperjuangkan kepentingan sekelompok elit.

Maka tak ayal lewat Gus Dur pula lah lahir kata-kata yang menempatkan kemanusiaan dan segala entitas pembelaan terhadapnya sebagai fondasi utama atas bangunan berkehidupan dan bernegara, yang hingga kini banyak dikutip dan dijadikan quote oleh sebagian besar dari kita, karena dianggap masih sangat relevan dengan kondisi bangsa yang akhir-akhir ini sering melenceng dari asas kemanusiaan. Seperti “Tuhan tidak perlu dibela. Dia sudah maha segalanya. Bela lah mereka yang diperlakukan tidak adil”, atau “ Memaafkan tidak akan mengubah masa lalu, tetapi memberi ruang besar untuk masa depan”, serta “Kemajemukan harus bisa diterima, tanpa adanya perbedaan”.

Nasionalisme Romantis
Tema nasionalisme selalu menjadi maskot pembicaraan di manapun, terlebih saat negara mulai dirasa goyah dan berpotensi pecah oleh ulah sekelompok “anak negeri” yang resah dan ingin mengganti arah bernegara yang justru sesat pikir dan mengkhianati sejarah. Jargon-jargon didengungkan dari layar kaca hingga spanduk warga, media sosial tak jarang bertengkar berebut klaim siapa yang paling benar dan siapa yang paling nasionalis dalam bernegara, bahkan tak jarang melibatkan agama dalam pusarannya.

Dalam studi dan kajian wawasan kenusantaraan, nasionalisme erat kaitannya dengan memiliki rasa solidaritas kebangsaan yang mengandung makna kesadaran dan semangat cinta atas tanah air yang satu. Lebih lanjut menurut Taufik (2010) nilai kebangsaan adalah dasar pertimbangan yang berharga bagi seseorang atau organisasi untuk menentukan sikap dan perilaku berupa perasaan cinta atau bangga terhadap tanah air dan bangsa berdasarkan prinsip kebersamaan, persatuan dan kesatuan, demokrasi atau demokratis, dengan melaksanakan dan mengembangkan sikap serta perilaku kehidupan sehari-hari.

Saking istimewanya nasionalisme dan pengertian yang terkandung di dalamnya, seorang Sosiolog kenamaan, Emile Durkheim bahkan berhipotesa bahwa nasionalisme dapat menjadi ”agama baru” dalam tatanan sosial masyarakat modern, karena kemampuannya menjadi integrator dari masyarakat majemuk tatkala hubungan-hubungan sosial semakin terasa longgar dan sangat berbau materialis, (Adisusilo, 2010).

Terlepas dari mulai pudarnya nasionalisme di masyarakat maupun elit politik dan segala kekurangan dalam implementasinya, nasionalisme sebagai wujud cita-cita luhur dari “The Founding Fathers” yaitu mewujudkan masyarakat yang sejahtera, adil materil dan spiritual dan makmur dalam kebhinnekaan Indonesia, tetaplah dibutuhkan dan harus terus dihidupkan.
Mengayuh kembali kepada sosok Gus Dur, sebagai tokoh agama dan seorang nasionalis, Gus Dur sangat mantap sebagai seorang muslim dengan toleransi yang luar biasa dalam melihat berbagai persoalan kebangsaan yang ada. Gus Dur juga acapkali memberikan kepada kita simbol-simbol, cerita, dan tauladan yang memberikan penglihatan baru dan pemahaman segar dalam memaknai nasionalisme.

Kembali sedikit ke belakang, masih segar dalam ingatan kita bagaimana Gus Dur dan Megawati Soekarnoputri pada masanya membuat cerita yang unik bagi kehidupan politik nasional dan kehidupan berbangsa dan bernegara. Kedua tokoh besar ini kerap kali terlihat secara kasat oleh kita sering bertentangan secara ideologis bagai minyak dan air yang susah menyatu, namun pada scene yang lain kita dapat pula melihat kedua tokoh ini menyatu, membantu, dan saling menyokong, terlebih saat berbicara kepentingan nasional.

Seperti yang dikisahkan Megawati saat berpidato pada acara Apel Besar Hari Lahir NU ke-93 di Pasuruan, Jawa Timur beberapa waktu yang lalu. Suatu ketika, saat Megawati berada di Istana Wakil Presiden, tiba-tiba Gus Dur melayangkan telepon dan bertanya, “Mbak Mega, di rumah ada nasi goreng?” ungkap Megawati menirukan pembicaraan Gus Dur tersebut. Lebih lanjut Megawati mengatakan pertanyaan tentang nasi goreng itu merupakan taktik Gus Dur untuk membicarakan hal yang penting. “Nasi goreng buatan Mbak Mega paling enak sedunia,” tutur Megawati meniru pujian dari Gus Dur yang kemudian disambut gelak tawa para hadirin yang menghadiri kegiatan tersebut. Tak lama dari perbincangan itu, Gus Dur berdatang ke Istana Wakil Presiden dan bicara tanpa basa-basi, “Mbak, pokok’e, awak dewe iki ojo sampek pecah (Mbak, kita ini jangan sampai pecah),” jelas Mega. Mega waktu itu juga tidak paham dan balik bertanya. “Maksud’e awak dewe iki opo toh Gus? (Maksud pembicaraan kita ini apa sih, Gus?),” tanya Mega. Gus Dur pun menjawab, “Nasionalis dan religius jangan sampai pecah, kalau pecah negara ini akan goyah,” kata Gus Dur kepada Mega.

Dari kisah “konsolidasi cinta” yang diungkapkan Megawati atas pengalamannya bersama Gus Dur tersebutlah semakin menjelaskan kepada kita bagaimana nasionalisme sebagai suatu emosi yang kuat dapat dimaknai dengan cara-cara yang jauh dari gesekan, jauh dari pertentangan. Sehingga nasionalisme yang kita dekap dan yakini adalah sebuah nasionalisme yang rileks, yang tuma’ninah walau penuh dinamika dalam tiap rakaat-rakaatnya, yang romantis meski harus berjibaku dengan arus-arus kepentingan politis.

Dan terakhir lewat apa yang kita petik dari Gus Dur, agaknya kita harus mulai merubah pertanyaan mendasar menyoal nasionalisme, terlebih ketika nasionalisme menjadi bahan bakar bagi lokomotif peradaban baru politik Indonesia. Yaitu, bukan lagi sekedar “siapa yang paling nasionalis” namun “siapa yang paling romantis” dalam berbangsa dan ber-nasionalisme.

Anak Kalteng yang sedang nyantri di Pascasarjana Ketahanan Nasional Universitas Gadjah Mada, dipercaya menjadi Kapten di pemimpin.org

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *