KH. Hasyim Muzadi: Terorisme adalah Deislamisasi

Saat ini masih saja banyak orang yang merasa bahwa hidup dengan mayoritas umat yang banyak itu adalah sesuatu yang luar biasa. Seakan-akan mayoritas itu adalah simbol kebenaran.
Menurut Hasyim Muzadi, hidup di negara yang penuh dengan toleransinya dan berbhinneka tunggal ika itu seharusnya membentuk seluruh umat di Indonesia untuk tidak saling menyombongkan diri dengan kebesaran mayoritasnya.

“Sebab kebenaran adalah kebenaran, mayoritas adalah mayoritas, minoritas adalah minoritas dan di Indonesia ini umat yang minoritas di suatu tempat boleh jadi menjadi mayoritas di tempat lain dan sebalik,” ujarnya.

Menurutnya agama apapun yang berkembang di negara ini, kalau menawarkan humanisme atau menawarkan kemanusiaan. Tuhan Yang Maha Kuasa memberikan agama agar manusia hidup sejaterah dunia dan akhirat. Oleh karena itu tugas agama adalah menyebarkan, kesejahteraan, keadilan serta persamaan.

Indonesia Bukan Bangsa Radikal

Sementara, terkait aksi radikalisme dan terorisme oleh kelompok-kelompok agama tertentu, tidak benar-benar muncul di Indonesia. Begitu juga, hubungan antar agama di Indonesia terjalin secara harmonis, termasuk antar budaya dan adat istiadat dalam kerangka bhinneka tunggal ika (berbeda-beda tetapi satu).

Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tersebut menyatakan bahwa kekerasan, ekstremisme dan terorisme mulai muncul di Indonesia setelah tragedi gedung kembar World Trade Center (WTC) di New York, AS, pada 11 September 2001.

Bahkan, Hasyim Muzadi berani mengatakan bahwa proses reformasi di Indonesia yang didukung keterbukaan juga menyebabkan masuknya gerakan radikal dan ekstrimis di negara ini.

“Karena itu, Indonesia bukanlah bangsa yang radikal dan sarang teroris tetapi pada kenyataannya, juga sebagai korban dari peringkatan pengaruh global radikalisme dan terorisme,” ujar Hasyim Muzadi.

Ironinya, lanjut Hasyim Muzadi, Indonesia tidak bisa melarang ideologi radikal karena proses demokratisasi di negeri ini.

Menurut Hasyim sebelum masuknya ideologi agama transnasionalisme yang membawa sistem politik negara asing, sebagian besar umat Islam di Indonesia menganut ideologi Islam moderat yang disebut “Ahli sunnah wal jamaah” yang terkonsolidasi dengan sistem negara yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Karena itu, Hasyim Muzadi mendesak Indonesia dan masyarakat internasional untuk merumuskan solusi umum untuk melawan kekerasan, radikalisme dan terorisme.

“Beberapa langkah yang dilakukan Indonesia untuk menghadapi masalah tersebut adalah dengan menjalankan gerakan anti-radikalisme untuk meningkatkan kesadaran di setiap bagian dari masyarakat. Masalah yang paling rawan adalah kesalahpahaman dan penyalahgunaan agama. Agama ditujukan untuk kebaikan seluruh umat manusia, tetapi mereka telah berubah menjadi bencana kemanusiaan,” tegas Hasyim.

Hasyim juga menambahkan jika pendekatan ideologis dan hukum tidak bisa menghentikan gerakan radikal, maka tindakan untuk menekan terorisme harus diambil melalui pendekatan keamanan.

Terorisme adalah Deislamisasi

Sementara, terkait aksi terorisme yang marak terjadi baik di dalam maupun di luar negeri, menurut Hasyim Muzadi sama saja dengan proses deislamisasi atau upaya penghapusan harkat ajaran Islam.

“Yang mereka lakukan ialah menyebarkan Islam melalui teror, yang terjadi adalah Islam berubah jadi agama kekerasan,” tutur.

Menurutnya, yang boleh menggunakan kekerasan hanya politik atau militer, sedangkan agama dilarang keras menggunakan cara seperti demikian.

Apabila sebuah agama telah dicap sebagai agama kekerasan, maka yang terjadi kemudian adalah keengganan manusia untuk menerima ajaran agama tersebut.

Penyebaran paham radikal, terorisme maupun ISIS juga turut dipengaruhi dengan kemunduran kegiatan dakwah oleh alim ulama.

Untuk kasus di Indonesia, Hasyim mencontohkan saat ini kerap terjadi penilaian subjektif dari segelintir pihak yang menuding kelompok atau individu yang tidak sepaham sebagai golongan kafir.

“Dulu, wali-wali mengislamkan orang kafir. Tapi yang ada sekarang malah banyak pemuka agama mengkafirkan orang Islam. Jika seperti ini terus maka gerakan dakwah akan pudar. Islam itu memimpin, bukan menekan,” tegas Hasyim Muzadi.

Sebagai agama dakwah, lanjut Hasyim, Islam mengajarkan setiap pengikutnya agar menyebarkan Islam melalui jalan kedamaian. Selain itu, juga terjadi kesalahpahaman dalam mendefinisikan Islam yang kaffah.

Banyak yang menginginkan Islam secara kaffah ialah melalui pembentukan negara Islam, padahal menurut dia bukan seperti itu. “Yang diharuskan dalam negara bukan bentuknya, tapi prinsip-prinsip (Islam) yang jalan atau tidak di negara Islam itu sendiri,” ulasnya.

*KH. Hasyim lahir di Bangilan, Tuban, Jawa Timur pada 8 Agustus 1944. Ia meninggal dunia di usia yang belum genap 72 tahun pada (16/3) pagi. Kesehatannya menurun sejak beberapa bulan terakhir dan sempat dirawat di RS Lavalette, Kota Malang, Jawa Timur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *