Keumalahayati, Panglima Perang Wanita Pertama di Dunia

Namanya kalah tenar dari pahlawan wanita yang dimiliki Indonesia, seperti R.A. Kartini atau Cut Nyak Dien. Namun sepak terjangnya, menempatkannya menjadi satu dari sekian pahlawan wanita yang berjuang di garis depan, langsung berhadapan dengan penjajah, saat masa perjuangan melawan Portugis dan VOC Belanda yang ingin menguasai jalur Selat Malaka.

Dialah Keumalahayati atau ada juga yang menyebutnya Malahayati, nama pahlawan wanita dari Nanggroe Aceh Darusalam (NAD) yang sangat terkenal karena keberaniannya. Gelar Laksamana yang disandangnya, membuktikan bahwa wanita ini bukan wanita sembarangan. Laksamana Keumalahayati seorang panglima perang tangguh pada masanya.
 
Meskipun namanya menjadi nama salah satu kapal perang Indonesia, yaitu KRI Malayati dan nama salah satu perguruan tinggi di NAD, namun tak banyak yang mengetahui kisahnya yang heroik. Ketika masalah kesetaraan gender masih didengung-dengungkan sampai saat ini, Keumalahayati sudah menjadi tokoh kesetaraan gender pada abad 15.
 
Keumalahayati diperkirakan lahir tahun 1585 di wilayah yang dulu disebut Darud Donya Darussalam, yang dipimpin oleh Sultan Mansyur Syah. Beliau adalah putri Laksamana Mahmud Syah, kakeknya Sultan Ibrahim Ali Mughayat Syah pendiri Kerajaan Aceh Darussalam. Oleh ayahnya, Keumalahayati disekolahkan di Akademi Militer Mahad Baitul Makdis dan mengambil jurusan Bahari atau Angkatan Laut. Karir militernya dimulai dari prajurit. Meskipun wanita, namun kemampuannya di atas rata-rata. Tak heran jika prestasinya gemilang dan karir militernya melejit hingga menduduki jabatan sebagai Panglima Barisan Pengawal Khusus Kerajaan Aceh Darussalam, juga menjabat Panglima Rahasia dan Panglima Protokol Kerajaan Aceh Darussalam.
Ketika suaminya, Laksamana Mahmudin bin Said Al Latief gugur dalam pertempuran di Teluk Hara, Keumalahayati diangkat oleh Sultan Alaidin Riayat Syah Al Mukammil untuk menggantikan posisi suaminya sebagai Panglima Armada Selat Malaka. Saat itu, Laksamana Keumalahayati menjadi laksanama wanita pertama di dunia yang menduduki pucuk pimpinan tertinggi Panglima Angkatan Laut Armada Selat Malaka dengan ratusan kapal perang.
 
Keumalahayati pun terkenal dengan idenya membentuk pasukan khusus yang prajuritnya para janda yang ditinggal mati suaminya dalam perang di Teluk Haru. Meskipun pembentukan pasukan yang kemudian diberi nama “Inong Balee” (pasukan janda) tersebut ditertawakan dan diragukan oleh petinggi kerajaan, namun Keumalahayati tetap mewujudkan idenya tersebut. Ternyata pasukan yang mempunyai 1.000 prajurit wanita ini, mampu membuktikan sebagai pasukan tangguh. Prinsipnya saat itu, kalau dirinya mampu berjuang di medan perang, maka dirinya mampu menciptakan wanita-wanita lain untuk melakukan hal yang sama. Pasukan “Inong Balee” membangun kekuatan militer di Bukit Krueng Rayeuk.
 
Saat menjabat sebagai Panglima Angkatan Laut Armada Selat Malaka, Keumalahayati merupakan sosok yang tangguh, dibuktikan dengan kemenangan armadanya pada beberapa pertempuran melawan Portugis dan juga Belanda. Sejarah mencatat, seorang pedagang asal VOC Belanda yang sangat berpengaruh saat itu, Cornelis de” Houtman, mati di tangan sang panglima wanita ini dalam duel satu lawan satu di geladak kapal milik Belanda. Padahal, di kapal itu dirancang acara jamuan makan malam yang merupakan jebakan untuk membunuh Laksamana Keumalahayati.
 
Peristiwa yang terjadi pada tanggal 11 September 1599 itu, menjadi bukti ketangguhan Laksanama Keumalahayati. Reputasi Keumalahayati sebagai penjaga pintu gerbang Kerajaan Aceh Darussalam membuat Inggris yang belakangan masuk ke wilayah ini, memilih untuk menempuh jalan damai. Surat perdamaian dari Ratu Elizabeth I yang dibawa oleh James Lancaster untuk Sultan Aceh.
 
Laksamana Keumalahayati diperkirakan meninggal tahun 1610, saat Sultan Iskandar Muda memerintah. Meskipun namanya tidak setenar pahlawan wanita lainnya, namun sosoknya yang pemberani dan berani mendobrak dominasi pria saat itu, sebagai panglima perang dari kerajaan sebesar Kerajaan Aceh Darussalam patut menjadi sesuatu yang harus dilanjutkan para perempuan Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *